Jakarta – Indonesia optimistis mampu mempertahankan pertumbuhan ekonomi pada semester II 2026 di tengah ketidakpastian dan tekanan ekonomi global. Keyakinan tersebut didukung oleh pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,45 persen pada semester pertama, melampaui pertumbuhan ekonomi dunia yang diperkirakan berada di kisaran 3 persen. Kekuatan pasar domestik, besarnya populasi usia produktif, serta kekayaan sumber daya alam dinilai menjadi modal utama untuk menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, kinerja ekonomi Indonesia masih menunjukkan daya tahan meskipun kondisi global menghadapi berbagai tantangan. Ia berharap pertumbuhan pada semester kedua tetap terjaga dan mampu mendekati pencapaian pada enam bulan pertama.
“Sejumlah lembaga internasional, termasuk IMF dan World Bank, memperkirakan pertumbuhan ekonomi global hanya berada di kisaran 3 persen. Namun, Indonesia mampu mencatatkan pertumbuhan hingga 5,45 persen. Kami berharap kinerja pada semester kedua dapat dipertahankan agar tidak jauh berbeda dari capaian semester pertama,” ujar Airlangga.
Menurut Airlangga, capaian tersebut menjadi indikator bahwa perekonomian nasional memiliki fondasi yang cukup kuat untuk menghadapi gejolak internasional.
Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menilai perekonomian Indonesia masih mempunyai peluang untuk berkembang lebih tinggi. Ia menjelaskan bahwa pertumbuhan saat ini belum mencapai potensi maksimal sehingga diperlukan kebijakan yang mampu mengoptimalkan berbagai sumber pertumbuhan nasional.
Penilaian tersebut menjadi salah satu pertimbangan Bank Indonesia dalam menentukan kebijakan moneter. Di tengah kenaikan suku bunga oleh sejumlah bank sentral utama dunia, BI memilih mempertahankan suku bunga acuan sebesar 5,75 persen untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas ekonomi dan kebutuhan pertumbuhan. Destry menegaskan, kebijakan suku bunga perlu disesuaikan dengan kondisi domestik agar tidak menahan laju perekonomian.
“Pertumbuhan ekonomi kita masih memiliki ruang untuk meningkat. Karena itu, peluang tersebut perlu dimanfaatkan tanpa memicu tekanan berlebihan terhadap perekonomian,” ungkapnya.
Ia menambahkan, pasar domestik yang luas, jumlah penduduk usia produktif, dan kekayaan sumber daya alam merupakan keunggulan Indonesia. Potensi tersebut perlu dikelola melalui peningkatan produktivitas dan penguatan industri nasional. Dengan koordinasi kebijakan yang konsisten, Indonesia diharapkan mampu mempertahankan pertumbuhan, memperkuat daya saing, dan menghadapi tekanan global secara lebih tangguh. (*)



