Beranda / Berita Utama / Nasional / Cerita BPS tentang Pengaruh Keberadaan ‘Roh Halus’ di Mal

Cerita BPS tentang Pengaruh Keberadaan ‘Roh Halus’ di Mal

Jakarta – Belakangan para ahli ekonomi ramai menanggapi data Badan Pusat Statistik (BPS) terkait angka pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal II-2025. Merespon hal tersebut, BPS menceritakan soal keberadaan fenomena ‘Roh Halus’ di mal-mal yang marak belakangan ini.

‘Roh Halus’ sendiri merupakan akronim dari ‘rombongan hanya elus-elus’, atau sebutan bagi kelompok masyarakat yang datang ke mal hanya untuk melihat-lihat saja tanpa membeli.

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh Edy Mahmud, menyampaikan bahwa kelompok ‘Roh Halus’ ini tetap membeli barang lewat toko online. Sehingga menurutnya, konsumsi rumah tangga pada kuartal II-2025 tercatat lebih tinggi dari periode yang sama pada tahun lalu. “Jadi, ada hal baru yang mungkin belum diungkap yaitu fenomena adanya shifting dari belanja secara offline ke online yang barangkali belum pernah diungkap, ungkap Edy dalam konferensi pers, Selasa (5/8/2025).

BPS menganggap kritik dan keraguan dari publik sebagai hal wajar sebab fakta dan data dari BPS akibat fenomena tersebut barangkali cukup sulit dilihat secara online. Namun Edy memastikan bahwa faktor ‘Roh Halus’ cukup berpengaruh pada pertumbuhan konsumsi rumah tangga. Tercatat transaksi belanja masyarakat secara online tumbuh 7,55% pada kuartal II-2025 dibandingkan kuartal I-2025.

Walaupun pada kuartal I, hari raya lebaran mendorong konsumsi rumah tangga, namun pada kuartal II juga terdapat peningkatan kebutuhan rumah tangga dan mobilitas masyarakat seiring adanya hari besar keagamaan, libur nasional, dan cuti bersama.

“Faktor yang mendorong konsumsi rumah tangga utamanya adalah meningkatnya kebutuhan primer dan mobilitas rumah tangga. Kita tahu mobilitas penduduk cukup tinggi di triwulan II, kemudian meningkatnya kebutuhan primer untuk beberapa kegiatan karena memang ada momentum hari libur, hari besar keagamaan dan sebagainya,” papar Edy.

Pertumbuhan ini sejalan dengan jumlah wisatawan nasional yang tumbuh 22,32% (yoy), serta adanya peningkatan jumlah penumpang di beberapa moda transportasi, baik darat maupun laut. Dengan demikian, kebutuhan bahan makanan akibat aktivitas pariwisata tersebut juga ikut meningkat. “Jadi mobilitas penduduk di triwulan II ini betul-betul sangat meningkat,” tutur Edy.

Tag:

10 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *